By Fera

By Fera Marleni

Peta Harapan dan Kompas Diri: Mengapa Anda Harus Menjadi Nahkoda Tegas bagi Kapal Hidup Anda

Kepadamu yang memikul harapan. 

​Aku menulis ini untukmu yang sedang duduk dengan bahu terkulai, mata menatap jauh, dan beban yang memberati dada. Beban itu adalah paduan harapan orang-orang yang kamu cintai dan hasratmu untuk membuktikan diri. 
Aku bangga padamu. Bukan bangga atas apa yang  kamu capai, tapi atas ketahanan dan keluasan hatimu. Hati seluas samudra, tempat banyak orang melayarkan perahu harapan mereka. Dan kamu, dengan segala rintangan yang harus kamu taklukan, tidak lupa memastikan setiap perahu sampai ke dermaga.

Mengenali Kelelahan, Bukan Kegagalan
​Rintangan, beban, dan tanggung jawab, membuatmu merasa lelah, namun kau lawan karena tidak mau menjadi lemah. Tahukah kamu? Lelah bukan kelemahan. Itu adalah medali kehormatan untuk semangat yang luar biasa. Buah pengorbanan tak terhitung  demi orang-orang yang kamu cintai.

Lelah membuatmu terjebak dipersimpangan. M. Di satu sisi tubuhmu ingin istirahat, di sisi lain bisikan takut mengecewakan menghantui. Bisikan itu menyiratkan, seolah istirahat berarti menyerah. 

Tolong, ubah perspektif itu! Istirahat bukan penyerahan. Ia adalah waktu mengisi daya. Kamu perlu untuk mengisi dayamu lagi. 

​Jika sebuah ponsel tidak diisi dayanya, ia akan mati, tak peduli betapa pentingnya pesan yang harus dikirim. Demikian pula denganmu. Mengisi ulang energimu adalah persiapanmu untuk memenuhi harapan yang dititipkan padamu, bukan tanda menyerah. Memaksa untuk tetap berjalan justru akan membuatmu hancur sia-sia. 

Kamu Adalah Nahkoda
​Mari kita bahas tentang harapan-harapan itu.
​Orang menaruh harapan padamu karena mereka yakin kamu mampu memenuhinya. Namun, terkadang,  mereka menitipkan harapan dengan 'peta' di tangan. Peta  penunjuk jalan terbaik menurut pengalaman mereka. Kamu tidak harus mengikuti peta itu. Kamu  punya kompasmu sendiri. Berlayarlah dengan memegang kompasmu, bukan peta mereka. 

Harapan yang dititipkan padamu, tidak semua harus kamu bawa. 

• ​Ambil Waktu untuk Hening: Tanyakan pada dirimu, "Dari semua harapan yang kubawa, mana yang paling selaras dengan diriku? Mana yang membuat jantungku berdetak kencang, bukan karena takut, melainkan karena antusiasme?" 

• ​Jadikan Harapan Mereka sebagai Energi, Bukan Tekanan: Alih-alih merasa tertekan, jadikan harapan mereka sekoci di kapal besarmu. Jadikan cinta dan kasih mereka sebagai angin pendorong layarmu. Bukan sebagai hutang yang memberati perjalananmu. Kemudi tetap ditanganmu. Kamulah nahkoda yang menentukan arah dan kapan harus berlayar. 

​💖 Langkah Kecil dengan Kekuatan Besar
​Sahabatku, jangan memaksa memanjat gunung jika kakimu belum begitu kuat. Cukup letakkan satu kaki di depan kaki yang lain, satu langkah demi satu langkah. 

Pilih 'Harapan Harian' Terkecil
Alih-alih memikirkan harapan 5 tahun ke depan, fokus pada "Apa satu hal kecil yang bisa kuselesaikan dengan baik hari ini?" Menyelesaikan satu hal kecil memberikan rasa kontrol dan pencapaian. 

Jadikan Komunikasi sebagai Jembatan
Bagi sedikit tentang kelelahanmu dengan orang-orang terkasih. Bukan untuk mengeluh tapi untuk memperkuat ikatan batin. Mereka mungkin terkejut mengetahui besar beban yang kamu pikul dan bisa mengerti mengapa kamu perlu berlabuh sejenak. 

​Ingatlah ini baik-baik: Kamu tidak akan mengecewakan mereka dengan menjaga diri. Justru, kamu sedang mengajari mereka bahwa untuk mencintai orang lain, kamu harus mencintai diri sendiri lebih dahulu. 

​✨ Afirmasi Penenang Jiwa untuk Melangkah Lagi

Saat kamu merasa beban itu terlalu berat, tutup mata sebentar dan bisikkan kalimat-kalimat ini pada dirimu. 

"Aku telah membuat satu langkah hari ini, satu langkah untuk semakin dekat dengan tujuan." 

"Aku bisa beristirahat sejenak kali ini. Layar kapal pun perlu digulung sesekali untuk memastikan ia masih kuat menunggang angin." 

"Aku menghargai harapan mereka, tapi aku adalah nahkoda kapal hidupku sendiri. Jika perahu-perahu yang dititipkan bisa menenggelamkan kapalku, maka aku harus merelakan perahu-perahu itu tertinggal di tengah samudra" 

"Aku sudah melakukan langkah yang lebih baik dari kemaren, maka esok langkahku akan semakin baik" 

"Kelelahanku adalah tanda istirahat sejenak bagi kapalku, sebelum kembali berlayar dengan kekuatan penuh." 

"Diriku berhak mendapat Kasih sayang sebesar yang kuberikan kepada orang lain" 

Resapi kalimat yang kamu ucapkan. Kamu akan menemukan kebenaran dan bisa melihat perjalanan yang sudah kamu selesaikan. Kamu akan tahu kamu sudah jauh dari tempat memulai. Istirahatmu ini hanya hal rutin yang diperlukan untuk mengisi lagi bekal perjalanan. 

​Saat istirahat itu sudah cukup, melangkahlah lagi bukan karena kewajiban, tapi karena cita-cita dan impian yang layak untuk diperjuangkan. Semoga kamu menemukan ketenangan dan angin kekuatan lagi di dalam dirimu. Angin yang akan mendorong kapalmu ke tujuan yang kamu impikan.

Latest News

Peta Harapan dan Kompas Diri: Mengapa Anda Harus Menjadi Nahkoda Tegas bagi Kapal Hidup Anda

Kepadamu yang memikul harapan. 

​Aku menulis ini untukmu yang...

STOP Drama! Kenapa 'Mulai Dari Nol Lagi' Sebenarnya Adalah Upgrade Hidup Level 10

Tahu tidak, momen yang paling menggelikan dan bikin panik adalah ketika Semesta iseng menekan tom...

Cara Menerima Kekecewaan: Kunci Kedamaian di Tengah Harapan yang Runtuh

Adakalanya hidup terasa seperti pelukan yang tiba-tiba dilepaskan. Pelukan yang terasa nyaman dan...

Jebakan Kenyamanan: 3 Sinyal Anda Terlalu Sukses, dan Mengapa Kita Harus Rela Kembali Menjadi Ikan Kecil

​Setiap perjalanan hidup, akan membawa kita ke sebuah titik yang terasa seperti puncak. Kita berh...

Self-compassion: Kenapa Luka dan Kesedihan adalah Bukti Kekuatan Sejati

​Kepada hati yang sedang lelah dan jiwa yang tengah berjuang. 

Aku tahu, ada desakan d...

Seni Menyembuhkan Luka: 3 Fase Menuju Kekuatan Batin.

Aktifitas harian dan interaksi sosial kadang tanpa sengaja menyebabkan luka. Entah karena ketidak...

Pondasi Tak Terlihat: Mengapa Proses Sakit Itu Perlu untuk Impian Besar

Surat untuk Diri di Titik Terendah

Apakabar, diriku. Mari duduk dan bicara lepas tentang ki...

MEMILIH DIRI SENDIRI: Self Love Bukan Egois

Ode untuk  yang pergi dalam keheningan

Pernahkah kau menyaksikan, seseorang p...

JIKA LELAH, ISTIRAHATLAH:Pentingnya Istirahat Mental

Pesan dari Jiwa yang Pernah Terluka 
 
​Hai kau yang berjalan terseok. Ber...

GODAAN MALAS: Malas Positif Malas yang Sehat

Sering kali, kita tergoda oleh rayuan lembut ranjang empuk di pagi hari. Atau, d...

SEMUA AKAN BAIK-BAIK SAJA:Belajar Menerima Keadaan dan Berhenti Overthinking)

Kepadamu diriku: Cukup Sudah Pikiran Liar Itu! 

​Apa kabarmu. Cukup...

TUJUAN ITU PERLU: Arah Hidup Jelas

Dalam keseharian kamu, pernahkah  tiba-tiba kamu berhenti sejenak, menatap ke depan, dan ber...

HIDUP TAK PERNAH MUDAH: Kekuatan di Tengah Kesulitan

Film-film sering kali menutup ceritanya dengan adegan happy ending yang indah —masalah sel...

PILIH MINDSETMU: Kekuatan Pola Pikir

Hai, guys! Pernah denger istilah mindset ga? Istilah yang mungkin kedenga...

Our Courses